KOMUNITAS olahraga di Indonesia kerap menghadapi tantangan klasik: ketergantungan pada pendana tunggal serta sosok ketua figuratif.
Namun, pendekatan berbeda ditunjukkan oleh ART Cycling Team. Komunitas yang lahir dari lintasan balap itu memilih bertransformasi menjadi entitas yang dikelola secara profesional melalui struktur badan usaha demi menjaga keberlangsungan tim.
Sejarah terbentuknya ART Cycling Team bermula pada 15 November 2025 dalam ajang Time Trial Team (TTT) di Pantai Indah Kapuk (PIK). Kala itu, tim tampil memakai nama Amin Racing Team. Merujuk pada Muhammad Amin, (yang akrab disapa Pak Amin), sebagai pendana tunggal.
Setelah event tersebut, potensi besar yang ada mendorong mereka untuk terus berjalan. Pengelolaan tim lantas diubah secara fundamental. Tidak lagi bergantung pada kepemilikan individu.
Baca Juga: 2 Cyclist Muda Pasang Target Berbeda di Nggravel Glenmore 2026
Baca Juga: 3 Cyclist Senior Siap Taklukkan Nggravel Glenmore 2026, Usia Bukan Halangan!
"ART Cycling Team sudah dikelola badan usaha yang terdiri dari empat shareholder," ungkap Wakil Manajer ART Cycling Team, Benno Rasyad. "Kami coba memiliki lini bisnis di balik layar yang masih berhubungan dengan olahraga. Dananya sebagian untuk mendanai operasional tim," lanjutnya.
Langkah inovatif itu diambil untuk memutus siklus komunitas sepeda yang kerap redup saat pendana atau ketua organisasi berganti.
"Biasanya komunitas ada pendana individu. Kalau pendananya hilang, komunitas meredup," kata Benno. "Maka kami coba buat tanpa struktur organisasi tradisional, melainkan seperti struktur perusahaan. Ada karyawan yang digaji untuk mengurus badan usaha dan tim agar sistem berjalan terus-menerus. Kami coba bikin komunitas yang sustainable," paparnya.
Saat ini, ART Cycling Team menaungi lebih dari 100 anggota komunitas. Dengan 30 di antaranya tergabung sebagai anggota tim inti. Pembagian itu membedakan antara wadah silaturahmi dengan kebutuhan kompetisi. Anggota komunitas bersifat terbuka untuk segala usia, sementara tim inti difokuskan untuk turun di berbagai ajang balap nasional.
Baca Juga: Azrul Ananda Bagi Tips buat Calon Peserta Nggravel Glenmore 2026
Baca Juga: Semangat Muda di Nggravel Glenmore 2026: Ambisi Podium Adrian dan Misi Debut Edo
Visi utama ART Cycling Team adalah membentuk wadah yang sehat, rendah hati (humble), dan menyenangkan. Meski berstatus sebagai hobbyist, deretan prestasi telah diraih, mulai dari podium di kategori Master C hingga deretan podium yang diraih pesepeda putri mereka, Lusia.
"Kami bukan tim untuk pembibitan atlet profesional, melainkan pembibitan tim hobbyist agar tetap sehat dan kompetitif. Juara itu bonus," tutur Benno.
Untuk menjaga performa anggota dan tim, ART Cycling Team menyusun jadwal latihan yang disiplin. Selasa dan Jumat dijadwalkan untuk gowes bersama (gobar) di Mozia Loop, BSD. Pada akhir pekan ada endurance ride sejauh 100 kilometer atau durasi 3 jam keluar area Mozia Loop.
Plus ada latihan fisik perorangan memanfaatkan home trainer, roller, atau latihan beban di gym. Deretan latihan itu menggambarkan filosofi dan semangat tim, Benno menegaskan pentingnya konsistensi dalam mengayuh pedal dan membangun ekosistem yang sehat.
"Tanjakan paling berat bagi seorang cyclist bukanlah rute yang ada di depan mata, melainkan bagaimana mengalahkan batas diri sendiri dan menjaga konsistensi," ucap Benno filosofis.
"Teruslah mengayuh, karena setiap tetes keringat hari ini adalah investasi untuk kekuatanmu besok. Dan ingat, kita akan melaju jauh lebih cepat dan lebih lama jika kita berada dalam ekosistem yang saling mendukung," pesannya. (Mainsepeda)