Ketika frasa "in this economy" makin sering muncul untuk menggambarkan situasi ekonomi yang tidak mudah, ada satu hal yang tampaknya tidak berubah di kalangan pesepeda Indonesia: Bromo KOM tetap masuk daftar prioritas.
Buktinya, lebih dari 1.000 cyclist terdaftar sebagai peserta Bromo KOM. Mereka datang mewakili 319 komunitas, berasal dari 121 kota di 26 provinsi di Indonesia. Bahkan ada yang datang dari 14 negara.
Ribuan peserta Bromo KOM itu mulai berdatangan ke Surabaya, Kamis 4 Juni 2026. Mereka mengambil race pack collection (RPC) di Wdnsdy Café, Town Square Surabaya, yang dijadwalkan digelar selama dua hari sebelum race, 4-5 Juni.
Bromo KOM yang selama ini dijuluki sebagai "naik hajinya" para cyclist itu memasuki edisi ke-12. Eventnya sendiri akan berlangsung pada 6 Juni 2026.
Begitu meja registrasi dibuka pukul 10.00 WIB, para peserta langsung berdatangan untuk mengambil race pack. Dua nama yang tercatat paling awal adalah Asep Saepul Millah dari Garut dan Eko Febianto dari Surabaya.
Bagi Asep, momen tersebut terasa spesial. Sebab, setelah bertahun-tahun hanya mendengar cerita tentang Bromo KOM, akhirnya ia bisa merasakan langsung atmosfer event yang menjadi bucket list banyak pesepeda Indonesia.
Pesepeda yang sehari-hari bertugas sebagai polisi di Sat Intelkam Polres Garut itu akan turun di kategori Men TNI/Polri 39 and Under. "Karena excited. Dari tahun-tahun sebelumnya ingin ikut, baru bisa kesampaian sekarang. Ini pertama kali saya ikut Bromo KOM," ujarnya.
Asep berangkat dari Garut pada Rabu siang. Bersama sepedanya, ia menempuh perjalanan menggunakan kereta api menuju Surabaya. "Saya berangkat dari Garut jam 11 siang. Sampai sini subuh. Istirahat dulu, sarapan, terus langsung berangkat ambil race pack," katanya.
Keinginannya mengikuti Bromo KOM sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun baru tahun ini kesempatan itu benar-benar datang. "Dari tahun lalu sudah ingin ikut. Baru kesampaian tahun ini karena baru ada rezekinya tahun ini," tambahnya.
Meski berstatus debutan, Asep cukup percaya diri menghadapi tanjakan menuju Wonokitri. Menurutnya, karakter rute di daerah asalnya tak jauh berbeda dengan medan yang akan dihadapi di Bromo.
"Di Garut juga banyak elevasi dan tanjakan. Ada Papandayan yang elevasinya sekitar 1.500 meter. Mirip-mirip sama Bromo, beda sedikit saja. Jadi insyaallah bisa menguasai medan," ujar anggota komunitas Cipanas Loop tersebut.
Namun ia sadar Bromo KOM memiliki tantangan tersendiri. Terutama tanjakan panjang yang nyaris tanpa ampun hingga garis finis.
Saat ditanya soal kesiapan menghadapi tanjakan sekitar 25 km menuju Wonokitri, jawabannya singkat namun penuh keyakinan. "Insyaallah siap, karena sudah disiapkan dari tahun-tahun lalu," tegasnya.
Bagi Asep, Bromo KOM bukan hanya soal kompetisi atau mengejar catatan waktu terbaik. Ada gengsi dan prestise tersendiri yang membuat event ini begitu istimewa di mata para cyclist Indonesia.
"Ini kan momen naik hajinya para cyclist ya. Targetnya finish strong, sehat, dan bisa balik ke Garut juga dalam keadaan sehat," ujarnya sambil tersenyum.
Jika Asep datang dengan semangat seorang debutan, Eko hadir dengan cerita yang berbeda. Ia sudah sangat akrab dengan tanjakan menuju Wonokitri. Bromo KOM 2026 menjadi penampilan keenamnya. Ia akan turun di kategori Men 45-49.
Meski sudah berkali-kali ikut, antusiasmenya sama sekali tidak berkurang. "Bromo KOM dari dulu sampai sekarang sangat-sangat berkesan. Selalu berkesan. Selalu menyenangkan. Selalu ingin mengulang lagi," katanya.
Menurut Eko, daya tarik Bromo KOM bukan semata karena tanjakannya. Kebersamaan dengan sesama cyclist menjadi alasan lain mengapa event ini selalu dirindukan.
"Bromo itu selalu ngangenin. Sudah berkali-kali tapi masih ingin naik lagi. Apalagi bersama banyak teman-teman. Nagih," ujarnya.
Eko juga memiliki kenangan manis di event ini. Pada edisi 2024, ia berhasil finis di posisi ketiga di kategorinya. Untuk tahun ini, target yang dipasang lebih realistis.
"Tahun 2024 saya pernah posisi tiga. Untuk tahun ini realistis saja, target lima besar lah," katanya.
Menariknya, catatan waktunya terus membaik dari tahun ke tahun. Bahkan personal record terbaiknya justru lahir pada Bromo KOM 2025.
"Kalau best time selalu naik terus. Tahun 2025 itu PR saya, 1 jam 38 menit. Tapi nggak podium, karena yang podium lebih kencang lagi," ujarnya, lantas tertawa.
Menjelang penyelenggaraan tahun ini, Eko juga merasakan perubahan kondisi cuaca dibanding musim sebelumnya.
"Tahun lalu memang lebih adem. Tahun ini saya beberapa kali naik sama rekan-rekan, panas sekali. Dalam satu bulan saya tiga kali naik, panas sekali," ungkapnya.
Sama seperti Asep, Eko juga datang sejak awal RPC dibuka. Ia menjadi peserta kedua yang mengambil race pack.
Alasannya sederhana. Bagi Eko, Bromo KOM selalu menghadirkan rasa antusias yang sulit dijelaskan. "Sebelum jam 11 saya usahakan sudah ambil race pack. Jadi nanti bisa santai, bisa istirahat full dan rileks untuk persiapan besok," tutupnya.(mainsepeda)