Cerita "Pulang Kampung" ke Bromo KOM Setelah 11 Tahun, Kawindra Kini Fokus Ngebel KOM

BROMO KOM 2026 tidak pernah kehabisan cerita unik dari para pesertanya. Salah satu kisah menarik datang dari Kawindra Andre Ernoult, seorang cyclist blasteran Prancis-Surabaya yang kini menetap di Jakarta.

Bagi Kawindra, garis finis di Wonokitri pada Sabtu, 6 Juni kemarin, bukan sekadar akhir dari sebuah tantangan menanjak ekstrem. Melainkan sebuah momentum reuni penuh memori setelah 11 tahun absen.

Ya, Kawindra kali terakhir mencicipi kejamnya tanjakan Bromo adalah pada edisi tahun 2015. Usianya saat itu masih muda, 16 tahun. Tidak ayal, pengalaman pertama itu begitu mengesankan. Kembali setelah satu dekade lebih, Kawindra mengaku rindu dengan atmosfer dan euforia khas yang hanya bisa ditemukan di Bromo KOM.

Kisah Kawindra mengenal dunia sepeda bermula dari sebuah ketidaksengajaan yang cukup unik. Ia awalnya hanya mengamati tren bersepeda yang seringkali melintasi berpusat di kawasan elite SCBD Jakarta.

Baca Juga: Pogacar Masuk Daftar 100 Tokoh Olahraga Paling Berpengaruh Versi Time 2026

Baca Juga: Kelar Bromo KOM, Bunda Fey Langsung Tatap Bentang Jawa dan Ngebel KOM

"Lumayan random," ungkapnya kepada Mainsepeda. "Saya lagi menunggu di halte bus SCBD yang waktu itu menjadi titik kumpul (tikum) SCBD Loop, lalu kenalan dengan komunitas PGN (Perusahaan Gas Negara). Kemudian saya ikut gowes bareng mereka. lama-lama diajak ke event seperti Bromo KOM," kenang Kawindra, lantas tersenyum.

Pada 2015, bersama tim PGN, Kawindra yang saat itu menjadi anggota paling muda merasakan dukungan luar biasa dari senior-seniornya. Rasa penasaran tentang bagaimana rasanya menanjak ke Bromo akhirnya terbayar lunas berkat solidaritas komunitas tersebut. Setelah 11 tahun berlalu, kerinduan akan atmosfer kompetisi kembali membuncah.

Menetap dan bekerja di Jakarta membuat Kawindra harus memutar otak demi menyiasati keterbatasan rute latihan menanjak. Ia melakoni persiapan intensif selama dua bulan dengan membagi porsi latihan luar ruang dan dalam ruangan.

Pada hari kerja, ia mengandalkan indoor training serta gowes bersama komunitasnya saat ini, Libris, mengitari jalur dalam kota (dalkot) Jakarta. Baru saat akhir pekan tiba, ia mencari "menu siksaan" luar ruang untuk melatih otot kakinya menghadapi kemiringan jalan.

"Persiapan kurang lebih selama 2 bulan. Karena saya tinggal di Jakarta dan sehari-hari kerja, jadi latihan nanjaknya terbatas pada latihan di Sentul dan Puncak di akhir pekan," jelasnya mengenai manajemen waktunya.

Baca Juga: Lulus Bromo KOM Setelah Tiga Kali Mencoba, Ini Rahasia Latihan George Ibrahim

Baca Juga: Cerita 3 Debutan Asing di Bromo KOM 2026, Tersiksa Tanjakan Tapi Terpikat Indahnya Alam

Darah sepeda dalam diri Kawindra memang mengalir kuat. Lahir dari ayah kandung yang berasal dari Prancis, ia tumbuh dengan mengidolakan para pembalap dunia yang berlaga di Tour de France (TdF), salah satunya adalah eks pembalap profesional Pierre Rolland yang terkenal dengan ketangguhannya.

Kecintaan itu dirawatnya lewat tradisi mudik ke Prancis yang rutin ia lakukan setiap tahun, di mana ia selalu menyempatkan diri untuk menonton langsung keseruan TdF di pinggir jalan. Inspirasi dari para pembalap elite dunia itulah yang ia bawa saat mengayuh sepedanya menuju Wonokitri.

Menariknya, keikutsertaan Kawindra di Bromo KOM kemarin juga menjadi momen emosional yang personal. Meski berdarah campuran Prancis, Kawindra adalah arek asli Surabaya. "Bromo KOM kemarin juga kesempatan buat saya pulang kampung, karena saya lahir di Surabaya walaupun blasteran dan ayah saya kelahiran Prancis," tutur Kawindra.

Petualangan bersepeda Kawindra dipastikan tidak berhenti di lereng Gunung Bromo. Usai menuntaskan rasa penasarannya di Wonokitri, ia langsung membidik target baru di kalender Mainsepeda berikutnya. "Baru pernah ikut Bromo KOM, tapi sekarang sudah daftar untuk Ngebel KOM," pungkasnya optimis. (Mainsepeda)


COMMENTS