Pesona jalur sepeda di Jawa Timur kembali mampu menarik perhatian pecinta sepeda. Perhelatan Nggravel Blitar 2026 yang akan berlangsung pada Minggu, 19 April 2026, tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi para atlet atau peserta kategori race. Tapi juga menjadi magnet bagi pesepeda hobi dari luar Jawa Timur yang mendaftar sebagai peserta non-race.

View indah yang ditawarkan pada Nggravel Blitar 2026, melewati sisi bagian Selatan dengan segmen jalanan yang sangat beragam. Mulai dari gravel road, single track, broken aspalt, hingga concrete serta muddy section. Justru menjadi daya pikat para peserta yang mendaftar pada kategori non-race sejauh 80 kilometer.

Salah satu peserta yang rela menempuh perjalanan jauh adalah Lanang Suryo Dumadi. Pesepeda asal Jakarta Selatan ini mengaku sudah mengincar event ini sejak tahun lalu. Baginya, Blitar menawarkan eksotisme yang tidak ditemukan di daerah dekat kediamannya.

Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Cyclist Lokal Tak Mau Berbagi Podium

“Di Jawa Timur medannya lebih variatif, ada alam dan banyak bebatuan vulkanik. Saya ingin merasakan suasana baru,” ujar Lanang saat ditemui saat pengambilan race pack di Kantor Bupati Blitar, Sabtu, 18 April 2026.

Lanang bahkan melakukan riset mendalam sebelum tiba di Bumi Penataran. Ia membedah detail rute untuk menentukan strategi asupan nutrisi hingga memetakan titik-titik terbaik untuk mengabadikan momen melalui lensa kamera.

Semangat serupa juga ditunjukkan oleh dua pesepeda perempuan asal Jakarta, Febrina Afivah dan Dwianasari Setiawati. Tanpa tahu persis seperti apa rute yang akan dihadapi, keduanya nekat terbang ke Blitar setelah melihat unggahan di media sosial.

Meski terbiasa melahap jalur gravel di kawasan Tangerang, mereka menyadari bahwa medan di Kabupaten Blitar yang memadukan aspal, pasir, dan bebatuan akan memberikan tantangan yang berbeda.

“Biasanya kami main gravel di Tangerang, tapi sepertinya di sini akan lebih ekstrem,” kata Febri.

Tidak ada ambisi podium bagi mereka. Keduanya mendaftar kategori non-race dengan target yang sederhana: mencari kebahagiaan.

“Targetnya finish happy dan semoga bisa masuk sebelum batas waktu (cut-off time),” tambah Dwianasari. Menariknya, karena jadwal yang padat, mereka berencana langsung kembali ke Jakarta segera setelah menyentuh garis finis tanpa sempat berwisata kuliner.

Sementara itu, Adihanapi Kusmali cyclist asal Bandung juga memilih untuk tidak mengikuti kategori kompetitif. Alasannya sama: ingin menikmati pengalaman bersepeda di Blitar. Adi menilai kontur jalan off-road di sekitar kediamannya jauh berbeda dengan Blitar. Hal ini yang membuatnya penasaran.

Baca Juga: Angkut Sepeda dengan Vespa dari Lombok, Dede Siap Kompetitif di Nggravel Blitar 2026

“Karena kan juga lumayan variatif juga kan treknya kalau bisa dilihat gitu. Kalau di Bandung mah kan kalau dilihat dari YouTube treknya berbeda. Jadi tertarik,” kata Adi.

Usia yang telah memasuki kepala enam juga membuat Adi tidak terlalu tertarik untuk beradu kecepatan dengan cyclist lain. “Ikut yang gak buru-buru. Santai saja, yang kondusif,” imbuhnya.

Nggravel Blitar 2026 sendiri dirancang untuk melintasi jalur off-road dengan total elevasi (elevation gain) 540 meter. Jalur ini dinilai ideal bagi pesepeda yang ingin menikmati pemandangan tanpa harus “tersiksa” oleh tanjakan yang terlalu terjal. (Mainsepeda)

Populer

Nggravel Blitar 2026: Target Finish Happy sekaligus Menikmati Tantangan Gravel yang Komplet
Nggravel Blitar 2026 Resmi Dimulai: 360 Cyclist Nikmati Surganya Off-Road
Nggravel Blitar 2026: Adrian Tercepat MTB, Yusuf Kibar Finish Pertama Kategori Gravel Bike
Nggravel Blitar 2026: Demi Safety, Peserta Wajib Aktifkan Race Map
Nggravel Blitar 2026: Cyclist Lokal Tak Mau Berbagi Podium
Nggravel Blitar 2026: Podium Gravel Bike Diisi Sosok Familier
Nggravel Blitar 2026: Spesialis Tanjakan Jajal Tantangan Off-Road
Angkut Sepeda dengan Vespa dari Lombok, Dede Siap Kompetitif di Nggravel Blitar 2026
Kediri Dholo KOM: 10 Rekomendasi Kuliner Kediri Versi Warlok Ivo Ananda, Cobain Yuk!
Pompa Ban Anda sesuai Berat Badan