Persaingan Women Elite Bromo KOM 2026: Maghfirotika Marenda Dapat Tantangan Nama-Nama Baru

PERSAINGAN memperebutkan podium Women Elite di Bromo KOM 2026 dipastikan panas. Nihayatuzzain Asshofi, juara Women Elite Banyuwangi Bluefire Ijen KOM 2025, menggunakan kesempatan Bromo KOM 2026 sebagai pemanasan jelang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Indonesia Cycling Federation (ICF) 2026 pada 18-21 2026 mendatang.

Hal itu dipastikan membuat Maghfirotika Marenda, sang Queen of the Mountain 2025, harus ekstra waspada. Nama-nama pembalap baru, yang di antaranya akan tampil di Kejurnas, akan menantang dominasi rider-rider berpengalaman yang selama ini menghuni podium tanjakan legendaris menuju Wonokitri.

Maghfirotika masih menjadi salah seorang favorit utama. Juara Women Elite tahun lalu itu datang dengan modal pengalaman yang tak dimiliki sebagian besar rivalnya. Sejak 2023, dia rutin tampil di Bromo KOM dan terus menunjukkan peningkatan performa. Tiga edisi terakhir Bromo KOM, Maghfirotika selalu naik podium di Women Elite. Bahkan musim lalu, dia mencatatkan waktu tercepat Women Elite dengan 1 jam 40 menit 48 detik.

Sebagai berstatus juara bertahan, Maghfirotika tidak melihat kehadiran para penantang sebagai ancaman. Sebaliknya, dia menyambut positif meningkatnya kualitas persaingan. "Wah, asyik dong, biar makin rame balapannya. Biar makin ada tantangannya juga," ucap Maghfirotika.

Maghfirotika Marenda mendapatkan tantangan dari nama-nama baru di kategori Women Elite Bromo KOM 2026.

Pembalap asal Surabaya tersebut lebih fokus untuk mencatat waktu lebih baik dibanding tahun lalu. "Kalau targetnya, sih melakukan yang terbaik dari sebelumnya aja. Ambisi podium juga pasti," tambahnya.

Tantangan terhadap Maghfirotika datang dari sejumlah nama baru yang sedang menanjak performanya. Salah satunya adalah Hadenova. Bromo KOM 2026 menjadi debutnya di event Mainsepeda. Tapi pembalap yang kini berlatih bersama timnas itu datang dengan persiapan yang serius.

Untuk menghadapi tanjakan sepanjang 25 kilometer menuju Wonokitri, Hadenova memperbanyak latihan endurance dan simulasi tanjakan panjang. "Saya banyak latihan endurance buat membangun stamina yang kuat. Terus cari rute latihan yang banyak tanjakan panjangnya buat adaptasi kaki sama simulasi jalur Bromo nanti," urainya.

Meski enggan berbicara soal target podium, Hadenova tetap menjadi salah satu rider yang layak diperhitungkan. Apalagi dia melihat Bromo KOM sebagai ajang pembuktian hasil latihan sekaligus tolok ukur menghadapi balapan-balapan besar berikutnya.

Syahla Syafiah bakal membuat persaingan semakin menarik. Dia melakukan persiapan intensif di Yogjakarta.

"Kalau kita bisa survive dan dapat hasil bagus di Bromo dengan rute se-ekstrem itu, otomatis bakal menambah rasa percaya diri untuk menghadapi balapan besar lainnya," urainya.

Selain Hadenova, Syahla Syafiah juga berpotensi membuat persaingan semakin menarik. Persiapan Syahla menuju Bromo KOM diisi dengan latihan intensif di Yogyakarta. Dia membidik target podium tahun ini. "Targetnya yang pasti podium, dan bisa bersaing sama rider lain," tegasnya.

Pengalaman tampil di Bromo KOM musim lalu menjadi modal berharga baginya. Syahla mengaku belajar banyak dari kekurangan yang dialami tahun lalu. "Kalau pelajaran dari tahun kemarin sih kurang kuat, jadi sekarang latihannya lebih giat lagi dan banyak nanjak seperti rute Bromo," ujarnya. Persiapannya pun tidak main-main. Dia rutin berlatih di berbagai tanjakan di kawasan Yogyakarta, mulai rute menuju Gunungkidul, Nanggulan, hingga kawasan Merapi untuk membangun kemampuan climbing.

Sementara itu, Nihayatuzzain Asshofi asal Tulungagung yang tahun lalu finish di luar podium, tahun ini mengincar hasil yang lebih baik. Sebelum tampil di Kejurnas ICF 2026, dia berharap hasil maksimal di Bromo KOM. Dia mengakui salah satu penyebab performanya musim lalu adalah kurangnya latihan. Kini porsi latihannya telah ditingkatkan.

Nihayatuzzain Asshofi menjadikan Bromo KOM sebagai ajang pemanasan jelang Kejurnas ICF 2026.

Namun, Nihayatuzzain tetap mempertahankan filosofi balap santai tanpa tekanan. "Lebih enak balapan yang enjoy. Menang atau kalah kan biasa. Yang penting sudah berusaha maksimal, masalah hasil itu rezeki juga," urai rider yang akrab disapa Niha itu.

Karakter balapan Bromo KOM yang terkenal menantang membuat prediksi podium Women Elite tahun ini semakin sulit diprediksi. Di satu sisi, ada Maghfirotika yang berbekal pengalaman dan status juara bertahan. Di sisi lain muncul nama-nama penantang muda seperti Hadenova, Syahla, dan Nihayatuzzain sebagai potensi rising stars. (Mainsepeda)


COMMENTS