Kolom Sehat: Supported Friend for Unsupported Ride

| Penulis : 

Tahun ini tahunnya gowes minggat. Karena kalau saya bilang, gowes jauh sebenarnya gowes 40 km sampai 80 km saja sudah jauh kan ya. Karena rata-rata orang bekerja atau bepergian itu sekitar 30 km sehari.

Tapi sepertinya para goweser ini kurang tantangan. Mereka ingin terus menguji ketahanan fisik serta mentalnya. Atau mungkin, dan hanya mungkin, mereka ingin mengetes yang kalah saya (pesepeda) atau sepedanya. Atau mungkin mereka ingin menguji kapan crank itu putus bila diengkol terus.

Menururt Anda, seberapa jarak gowes minggat itu?

Awalnya goweser pasti mulai di angka 100. Secara psikologis pasti jauh. Misal kalau dari Surabaya Utara ke Pandaan di Pasuruan pergi-pulang, kira-kira kilometernya 100. Berikutnya 160 km. Istilahnya century ride, 100 mil. Berikutnya 200 km, 300 km, dan sampai 1.200 km. Jauh ya. Bahkan terlalu jauh. Maka saya istilahkan minggat.

Sebenarnya mulai 200 km saja sudah berat. Karena panitia sebuah event pasti berusaha memilihkan rute yang berimbang. Rute yang asik-asik menantang. Kalau terlalu asik membuat orang mengantuk. Kalau terlalu menantang membuat pesepeda putus asa, wkwkwkwk. Meramu rute ada seni tersendiri. Tidak bisa asal menggambar di peta atau aplikasi.

Apakah rute-rute ini berat? Menurut saya berat. Tentu saja berat menurut porsi masing-masing ya. Karena biasanya panjangnya rute akan diikuti oleh cut off time (COT) tertentu. Nah perpaduan antara rute dan cut off time membuat gowes makin ngeri-ngeri sedap. Selalu berhitung harus di speed berapa. Harus secepat apa.

Sering kali cerita-cerita akan dimulai karena yang namanya perjalanan tidak mungkin tanpa halangan, kan. Tidak mungkin mulus. Tidak mungkin awan mendung mengikuti kita dari awal sampai akhir. Atau angin akan mendorong kita dari awal sampai akhir. Apalagi gowes jauh-jauhan gini seperti event Audax.

Saya istilahkan minggat juga karena bersepedanya harus mandiri. Unsupported ride. Tidak ada sepeda motor yang siap dengan ban cadangan, yang siap dengan minum, alat perbaikan sepeda lengkap, ban dalam atau bahkan ban luar. Tidak ada. Kalau pun mau bawa, bawa sendiri. Mandiri.

Jadi ngeri-ngeri sedap itu sambil berharap ban tidak gembos. Grupset bisa berfungsi dengan baik tanpa masalah. Tidak ada kendala teknis. Nah pertanyaannya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak enak? Nah inilah guna teman. Baik teman yang sudah janjian ikut event bersama, atau teman yang baru bertemu di event ini untuk pertama kalinya.

Kadang bantuan itu sederhana bagi kita. Tapi bagi yang dibantu itu luar biasa berguna. Misal membiarkan orang di belakang kita, atau meminjamkan tools ketika ada pesepeda bermasalah, memberikan ransum saat pesepeda lain kelaparan atau bonk. Bahkan yang jauh lebih sederhana lagi, menemaninya saja.Kadang dengan ditemani spirit yang sudah koyak akan bangkit lagi. Semangat untuk menuntaskan rute berkobar kembali.

Be friendly and make friend. Be supported friend for unsupported ride. Sekian. (johnny ray)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 124

Foto: Chaidar (@chaidar26 )

Populer

Lawan Arus Mudik Mesin, 57 Pesepeda Pulang Kampung Lebaran Bersepeda
Jersey Nggravel Blitar 2026: Memadukan Keindahan Rute dengan Estetika Seni Van Gogh
Kisah LeBron James dan Kecintaannya pada Sepeda
Paris Nice 2026: Hapus Penasaran, Jonas Vingegaard Rengkuh Gelar Perdana
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Isaac del Toro Segel Gelar Juara Umum Tirreno-Adriatico 2026
Nggravel Blitar 2026: Rekomendasi Hotel dan Moda Transportasi
Kediri Dholo KOM 2024: Kisah di Balik Simpang Lima Gumul
Tips Memperkuat Otot dengan Gym
Tirreno-Adriatico 2026-Etape 3: Tobias Lund Andresen Kalahkan Dominasi Sprinter Kelas Atas