Kategori race di Nggravel Blitar 2026 memang ramai peminat. Namun, tidak sedikit pula para cyclist yang memilih berpartisipasi di kelas non-kompetitif. Alasannya beragam. Tapi yang paling umum karena ingin menikmati sensasi surga off-road di Blitar yang dikenal indah.
Mereka rata-rata ter-influence dengan edisi pertama Nggravel Blitar tahun lalu. Jalur non-aspal yang beragam plus pemandangan yang indah bak menyihir banyak orang. Bahkan hal itu membuat tak sedikit cyclist rela terbang dari luar Pulau Jawa untuk mengikuti Nggravel Blitar 2026 pada 19 April mendatang.
Retno Sawitri Listyabratarini, cyclist perempuan berusia 45 tahun ini harus menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk tiba ke Blitar. Ia berasal dari Tanjung Selor, Kalimantan Utara, salah satu provinsi termuda di Indonesia. Retno akan berangkat seorang diri. Ia bercerita harus menempuh perjalanan laut menuju Pulau Tarakan terlebih dahulu, sekitar 1,5 jam, sebelum naik penerbangan langsung menuju Surabaya. Belum lagi, ia masih menempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Blitar.
"Butuh seharian untuk sampai Surabaya, belum lanjut ke Blitarnya," ungkap Retno.
Retno Sawitri, cyclist yang berdomisilisi di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
Akan tetapi, perempuan yang seorang ASN itu tak keberatan melakukan perjalanan. Ia menyebutnya sebagai 'lelah yang bermakna'.
"Buat aku, unpaved road dan alam bebas itu selalu menarik dan menyenangkan, meski lebih suffering. Memberikan pengalaman dan sensasi yang berbeda. Banyak detail lanskap yang dinikmati dan direnungkan. Ini adalah lelah yang bermakna," ucapnya.
Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Antisipasi Hujan Parah, Siapkan Rute Plan B
Retno bukan pertama kali mengikuti event Mainsepeda. Sebelumnya, ia juga berpartisipasi di event ultra-cycling East Java Journey (EJJ) 2026 600 Km pada Februari lalu. Namun, ia memutuskan DNF (Did Not Finish) di Blitar dan memilih bersepeda mandiri di sana. Retno juga asli Tulungagung, oleh karenanya event Nggravel Blitar 2026 juga akan menjadi momen pulang kampungnya karena jaraknya yang berdekatan.
Tak hanya Retno yang rela terbang dari Borneo, Gusti Syahroni yang berasal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, juga akan mengikuti Nggravel Blitar 2026. Tak berbeda jauh dengan Retno, Nggravel Blitar akan menjadi event keduanya. Cyclist 57 tahun ini sebelumnya mengikuti Malang Century Ride akhir tahun 2025 lalu. Pengalaman pertamanya tersebut membekas sehingga ia tertarik mengikuti event Mainsepeda lainnya.
Kebetulan, Gusti juga punya agenda di Yogyakarta jadi Nggravel Blitar 2026 semakin sulit ditolak. "Jadi ikut event dulu baru ke Yogyakarta. Kebetulan ada teman di Malang, rencananya meminjam sepeda teman. Jadi paling cuma bawa perlengkapan sepatu, cyclo, dan helm," akunya.
Nggravel Blitar 2026 akan jadi event kedua Gusti.
Gusti memilih mengikuti kategori non-kompetitif karena ingin menikmati perjalanan. Namun, ia tidak menutup peluang ikut kategori race di Nggravel Glenmore, Banyuawangi, pada 10 Oktober mendatang.
"Ingin menikmati pemandangan aja. Saya sudah umur 57 tahun gak kuat race lagi, tapi lihat situasi dulu. Siapa tahu event di Banyuwangi nanti bisa ikut lagi dan ambil race-nya," candanya.
Pensiunan ASN ini memang rutin bersepeda dan mengikuti event sepeda di daerahnya. Namun, setelah purna tugas ia baru punya waktu mengikuti event Mainsepeda dan ketagihan.
Sementara itu, Stevanus Kowijaya, cyclist asal Bali, baru akan debut dan menjajal event Mainsepeda. Ia mengaku sudah tak sabaran. Cyclist 49 tahun ini bahkan 'bongkar gudang' untuk menghidupkan kembali sepeda Mountain Bike (MTB) miliknya dulu.
"Tertarik sih pas liat jalurnya pertama kali Blitar. Kebetulan ini main MTB lagi, MTB Murni, sepeda lama masih size 26," tuturnya.
Stevanus akan debut di event Mainsepeda dengan mengikuti Nggravel Blitar 2026.
Stevanus mengaku sepeda MTB-nya dibeli pada 2013 lalu. Ia pun telah melakukan upgrade, terutama di part groupset-nya, seperti crank dan Rear Derailleur (RD). "Caliper-nya aja yang lama, masih aman. Sisanya yang lain terpaksa ganti," tambahnya.
Seperti diketahui, Nggravel Blitar 2026 merupakan event gravel yang diselenggarakan Mainsepeda dengan dua kategori berbeda: race dan non race.
Baca Juga: Jersey Nggravel Blitar 2026: Memadukan Keindahan Rute dengan Estetika Seni Van Gogh
Kategori race akan dibagi menjadi dua jenis kompetisi berdasarkan jenis sepeda, Gravel Bike (Drop Bar) dan MTB (flat bar). Masing-masing kategori akan mempertandingkan lima kelompok umur. Men 34 and Under, Men 35-44, Men 45 and Up, Women 29 and Under, dan Women 30 and Up. Sedangkan, kategori non-race akan melewati rute berjarak 80 Km.
Para peserta dilarang memakai sepeda bertenaga listrik atau e-Bike. Demi kenyamanan dan keamanan, Mainsepeda juga merekomendasikan penggunaan ban sepeda dengan lebar 40 mm atau lebih. (Mainsepeda)