FENOMENA ultra cycling, atau olah raga bersepeda jarak jauh, makin ramai diperbincangkan publik Indonesia. Menempuh rute ratusan hingga ribuan kilometer secara unsupported (tanpa pengawalan), kegiatan itu menuntut fisik yang prima, ketahanan mental, serta manajemen strategi yang presisi.

Di antara berbagai ajang ultra cycling nasional, event Bentang Jawa kerap dianggap sebagai salah satu ujian paling berat. Namun, keberhasilan para finisher Bentang Jawa 2026 membuktikan satu pola menarik: ajang East Java Journey (EJJ) buatan Mainsepeda bisa bertindak sebagai kawah candradimuka yang paling ideal sebelum mereka menaklukkan lintasan Pulau Jawa.

Tiga alumnus EJJ menceritakan bagaimana pengalaman melintasi rute Jawa Timur menjadi bekal krusial dalam menuntaskan Bentang Jawa under Cut off Time (COT).

Baca Juga: 2 Cyclist Siap Nikmati Jalur ala Unbound Gravel di Nggravel Glenmore 2026

Baca Juga: Cantik Banget! Waduk Sidodadi Jadi Lokasi Titik Start dan RPC Nggravel Glenmore 2026

Adika Ranggatama: Menemukan Efisiensi Gear dan Adaptasi Suhu

Adika (kanan) mengikuti EJJ 2024 di kategori Pair bersama Michael Calvino.

Kisah Adika Ranggatama, di sisi lain, bermula dari perjuangan melawan overweight. Berbobot awal 115 kg pada 2018, Adika kembali aktif bersepeda hingga mencapai berat badan ideal 72 kg. Dari kebiasaan menambah jarak gowes demi membakar kalori ekstra pasca-grup ride, ia mulai ketagihan menikmati mengayuh pedal berdurasi panjang.

Setelah menuntaskan EJJ 2024 1500 km, Adika mantap melangkah ke Bentang Jawa 2026. Menurutnya, EJJ 1500 memberi banyak pelajaran berharga tentang kurasi barang yang perlu dibawa.

"Frame bag atau apapun tas yang menempel di sepeda, kalo bisa cari yang bagus dari segi bobot dan fungsi. Bener-bener mengkurasi barang bawaan, kalo emang gak perlu lebih baik ditinggal. Jersey/bib yang dulu saya bawa dua set cadangan untuk 1500 km, sekarang cuma bawa satu set cadangan," jelas Adika.

Adika menyetujui pandangan bahwa EJJ merupakan wadah pembelajaran terbaik sebelum menghadapi ajang ultra skala besar seperti Bentang Jawa. Kemiripan jarak, karakteristik tanjakan, serta variasi segmen membuat EJJ menjadi tolok ukur yang presisi.

Baca Juga: Komunitas BioKA Mantap Terjun di Nggravel Glenmore Bekat Rayuan Warlok

Baca Juga: 3 Hal tentang Nggravel Glenmore 2026, Inilah Panduan Regulasi dan Persiapan Buat Cyclist

"Di EJJ memfasilitasi setiap checkpoint-nya dengan bike service dan massage untuk rider-nya. Ini berguna banget untuk orang yang baru terjun di event ultra, jadi peserta lebih percaya diri dan badan lebih fresh," ungkapnya.

Selain persiapan teknis, Adika menggarisbawahi pentingnya heat training (latihan ketahanan panas) di siang hari agar tubuh tidak terkejut saat menghadapi cuaca ekstrem di lintasan.

Keberhasilan Muhammad Yasyir, Okky Rubyanza, dan Adika Ranggatama menuntaskan Bentang Jawa menyingkap satu benang merah. Ultra cycling bukanlah ajang nekat, melainkan perpaduan antara latihan terstruktur, strategi matang, dan pemahaman atas batas diri.

Bagi para pesepeda yang ingin menantang diri melampaui batas, ajang seperti East Java Journey menjadi pijakan awal yang tepat untuk belajar dan berproses menjadi pegowes ultra. (Mainsepeda)

Populer

Vuelta a Espana 2026-Etape 21: Enric Mas Juara, Johannessen Menang di Granada
Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Isaac del Toro Juara GP Montreal 2026, Sinyal Kuat Jelang Kejuaraan Dunia
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Azrul Ananda Bagi Tips buat Calon Peserta Nggravel Glenmore 2026
Samar Wulu, Komunitas Tuan Rumah yang Siap Sambut Peserta Nggravel Glenmore 2026
Kamboja Menuju Produsen Sepeda Utama Dunia?
Kesalahan Cyclist Pemula: Duduk Mengangkang, Celana Dalam, atau...
Tour de Surakarta Digelar 10 Oktober 2026, Siap-Siap Nikmati Keindahan dan Kenyamanan Solo
Pesona Selo “Ring of The Fire”, Sensasi Menanjak Membelah Merapi dan Merbabu