Dari Jawa Timur ke Bentang Jawa: EJJ Jadi Tempat Belajar Pegowes Ultra

FENOMENA ultra cycling, atau olah raga bersepeda jarak jauh, makin ramai diperbincangkan publik Indonesia. Menempuh rute ratusan hingga ribuan kilometer secara unsupported (tanpa pengawalan), kegiatan itu menuntut fisik yang prima, ketahanan mental, serta manajemen strategi yang presisi.

Di antara berbagai ajang ultra cycling nasional, event Bentang Jawa kerap dianggap sebagai salah satu ujian paling berat. Namun, keberhasilan para finisher Bentang Jawa 2026 membuktikan satu pola menarik: ajang East Java Journey (EJJ) buatan Mainsepeda bisa bertindak sebagai kawah candradimuka yang paling ideal sebelum mereka menaklukkan lintasan Pulau Jawa.

Tiga alumnus EJJ menceritakan bagaimana pengalaman melintasi rute Jawa Timur menjadi bekal krusial dalam menuntaskan Bentang Jawa under Cut off Time (COT).

Baca Juga: 2 Cyclist Siap Nikmati Jalur ala Unbound Gravel di Nggravel Glenmore 2026

Baca Juga: Cantik Banget! Waduk Sidodadi Jadi Lokasi Titik Start dan RPC Nggravel Glenmore 2026

Muhammad Yasyir: Dari Gowes Kafe Hingga Strategi Manajemen Daya

Sosok Muhammad Yasyir saat mengikuti EJJ.

Bagi Muhammad Yasyir (32), perjalanan menuju panggung ultra cycling terbilang unik dan tidak disengaja. Berawal dari pesepeda akhir pekan (weekend warrior) dengan sepeda fixie pada 2022, ia mulai merambah ke roadbike pada 2023. Bermula dari ajakan bertandang ke Purwakarta demi menyantap Sate Maranggi dengan jarak 100 kilometer.

Pengalaman menembus batas jarak tersebut berlanjut ke event ultra lain, sebelum akhirnya ia menjajal EJJ 600 km pada 2026 sebagai sarana evaluasi menyeluruh sebelum Bentang Jawa.

"EJJ 600 kemarin memang test event, sekaligus arena simulasi ideal sebelum Bentang Jawa," Yasyir mengakui. "Fokus utama saya waktu itu adalah mengevaluasi hasil latihan, menyaring barang bawaan, dan menguji manajemen daya (power management)," paparnya.

Pelajaran paling berharga yang dipetik Yasyir dari EJJ adalah manajemen daya untuk penerangan saat malam. Ia menyusun skema ketat: memuat ulang penuh powerbank minimal 10.000 mAh saat istirahat tidur panjang, yang kemudian dikhususkan untuk pengisian ulang baterai lampu utama secara berkala saat gowes malam.

Tak hanya itu, EJJ juga memfasilitasinya menguji jenis nutrisi yang paling ramah pencernaan guna menghindari gangguan perut saat mengayuh pedal berhari-hari.

"Di luar fisik, buat saya ultra cycling itu 80 persen adalah permainan strategi. Setiap kilometer perlu kita rencanakan, kelola, dan mitigasi risikonya. Jangan malu untuk bertanya, nikmati setiap prosesnya, dan jangan pernah takut untuk bermimpi besar," tegasnya.

Okky Rubyanza: Simulasi 'Multidays' Tanpa Beban Cuti Panjang

Okky saat melintasi rute JLS di EJJ.

Bagi Okky Rubyanza, daya tarik ultra cycling terletak pada hasrat menjelajahi tempat-tempat baru yang sulit dijangkau oleh kendaraan biasa. Okky memandang EJJ 600 km sebagai jembatan paling realistis untuk belajar multidays ride.

"Event EJJ 600 sangat membantu untuk ke Bentang Jawa, untuk belajar ultra cycling yang multidays," ungkap Okky. "EJJ 600 itu pas banget karena gak butuh cuti panjang-panjang," lanjut pria berusia 42 tahun tersebut.

Dari keikutsertaannya di EJJ, Okky belajar meracik ride planning, menentukan setting-an sepeda yang optimal, menyaring packing list, hingga beradaptasi secara psikologis menembus pekatnya malam di kawasan hutan. Pengalaman ini kian matang saat ia berlaga pair (berpasangan) bersama adiknya di Bentang Jawa.

Untuk menghadapi tantangan ultra cycling, Okky membagikan kiat latihan di tengah kesibukan harian: rutin melakukan long ride dan climbing session setiap akhir pekan. Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan adalah guru terbaik.

"Biar gak kaget, harus coba event multidays. EJJ 600 sangat cocok buat pemula," tuturnya.

Baca Juga: Jersey Nggravel Glenmore 2026 Dirilis, Padukan Panorama Perkebunan dan Performa Tinggi

Baca Juga: Nostalgia Jalur Gravel EJJ, Wisli Sagara dan Ilmiawan Auwalin Siap Comeback ke Glenmore

Adika Ranggatama: Menemukan Efisiensi Gear dan Adaptasi Suhu

Adika (kanan) mengikuti EJJ 2024 di kategori Pair bersama Michael Calvino.

Kisah Adika Ranggatama, di sisi lain, bermula dari perjuangan melawan overweight. Berbobot awal 115 kg pada 2018, Adika kembali aktif bersepeda hingga mencapai berat badan ideal 72 kg. Dari kebiasaan menambah jarak gowes demi membakar kalori ekstra pasca-grup ride, ia mulai ketagihan menikmati mengayuh pedal berdurasi panjang.

Setelah menuntaskan EJJ 2024 1500 km, Adika mantap melangkah ke Bentang Jawa 2026. Menurutnya, EJJ 1500 memberi banyak pelajaran berharga tentang kurasi barang yang perlu dibawa.

"Frame bag atau apapun tas yang menempel di sepeda, kalo bisa cari yang bagus dari segi bobot dan fungsi. Bener-bener mengkurasi barang bawaan, kalo emang gak perlu lebih baik ditinggal. Jersey/bib yang dulu saya bawa dua set cadangan untuk 1500 km, sekarang cuma bawa satu set cadangan," jelas Adika.

Adika menyetujui pandangan bahwa EJJ merupakan wadah pembelajaran terbaik sebelum menghadapi ajang ultra skala besar seperti Bentang Jawa. Kemiripan jarak, karakteristik tanjakan, serta variasi segmen membuat EJJ menjadi tolok ukur yang presisi.

Baca Juga: Komunitas BioKA Mantap Terjun di Nggravel Glenmore Bekat Rayuan Warlok

Baca Juga: 3 Hal tentang Nggravel Glenmore 2026, Inilah Panduan Regulasi dan Persiapan Buat Cyclist

"Di EJJ memfasilitasi setiap checkpoint-nya dengan bike service dan massage untuk rider-nya. Ini berguna banget untuk orang yang baru terjun di event ultra, jadi peserta lebih percaya diri dan badan lebih fresh," ungkapnya.

Selain persiapan teknis, Adika menggarisbawahi pentingnya heat training (latihan ketahanan panas) di siang hari agar tubuh tidak terkejut saat menghadapi cuaca ekstrem di lintasan.

Keberhasilan Muhammad Yasyir, Okky Rubyanza, dan Adika Ranggatama menuntaskan Bentang Jawa menyingkap satu benang merah. Ultra cycling bukanlah ajang nekat, melainkan perpaduan antara latihan terstruktur, strategi matang, dan pemahaman atas batas diri.

Bagi para pesepeda yang ingin menantang diri melampaui batas, ajang seperti East Java Journey menjadi pijakan awal yang tepat untuk belajar dan berproses menjadi pegowes ultra. (Mainsepeda)


COMMENTS