Nggravel Blitar 2026 menciptakan berbagai cerita yang tak terlupakan bagi para pesertanya. Pemandangan indah dengan view menawan jadi sorotan utamanya. Meskipun demikian, tak sedikit yang beralih ke mode survival karena didera kendala teknis karena menerima 'siksaan' rute Nggravel Blitar yang menantang.
Hasan Nindya Murwanto, peserta asal Sukoharjo, terpaksa berhenti berkali-kali lantaran rantai sepedanya putus hingga tiga kali. Insiden pertama terjadi di kilometer 20, disusul kejadian kedua lima kilometer kemudian. Puncaknya, di titik check point, rantai yang baru diperbaiki langsung putus saat ia mencoba mengayuh.
"Kondisinya cross chain (miring), jadi tidak kuat menahan beban. Di awal saya juga terlalu banyak sprint," aku Hasan.
Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Sabet Lanterne Roque Akibat Ban Bocor Suami, Hingga Keasyikan Reuni
Demi mencapai garis finis, ia memotong bagian rantai yang rusak dan menyambung sisanya, lalu melaju lebih pelan. "H-7 sebelum event, sepeda wajib masuk bengkel. Jangan sampai kejadian seperti saya."
Faktor alam dan kesalahan strategi fisik juga menjadi penghambat. Rohmat, peserta asal Trenggalek, harus menepi di Desa Wonorejo karena kram hebat. Ia menyebut panas matahari yang menyengat membuat suhu tubuhnya sulit stabil.
Padahal, Rohmat merasa fisiknya cukup prima karena terbiasa bersepeda ke pasar setiap pagi dengan beban hingga 40 kilogram. Namun, rute Blitar ternyata menuntut manajemen tenaga yang berbeda.
"Mungkin salah memanajemen tenaga. Saya terlalu memaksakan gear berat di medan yang seharusnya pakai kombinasi gear rendah," jelas Rohmat. Meski sempat mendapat perawatan medis, ia menolak menyerah dan kembali melanjutkan perjalanan.
Michael Calvino, kreator konten sepeda asal Semarang juga mengalami kesialan. Bannya tertembus paku ketika masih awal rute. Masalahnya ketika ingin memperbaikinya, ternyata ban dalam terdapat cairan tubeless yang lengket. Ia pun bersusah payah melepasnya bersama temannya, Kevin Kurnia Setiawan.
"Kalau tidak ada keinginan biar finish under COT, mungkin sudah DNF," kata Michael.
Cyclist 40 tahun ini mengaku kecewa karena ia sudah membayangkan akan ikut adu kecepatan di kategori race. Namun, ia terpaksa melambat karena insiden bocor ban. Sisi positifnya, ia dapat menikmati pemandangan Blitar yang sangat indah. Mengumpulkan konten lebih banyak.
"Pemandangan kebun tebu, nanas, tambang pasir, semuanya bagus. Kesempatan ngonten jadi lebih banyak," tuturnya.
Baca Juga: Nggravel Blitar 2026: Adrian Tercepat MTB, Yusuf Kibar Finish Pertama Kategori Gravel Bike
Sementara itu, Mochamad Rijal Hermanto, cyclist asal Malang, menyebut view di lereng Gunung Kelud memang tidak pernah salah. Hanya saja karena tahun ini juga mengeksplorasi Blitar bagian selatan, cuaca panasnya cukup menyengat. Berbeda tahun lalu yang mana, rute full di Blitar Utara yang cenderung dingin.
"View-nya kalau yang bikin Mainsepeda pasti bagus. Kesannya selalu positif," ujarnya.
Rijal sendiri berhasil meraih posisi ketiga nomor Gravel Men 35-44 dengan susah payah. Ia mengalami masalah teknis di bagian Rear Derailleur (RD) serta sempat terjatuh dan mengalami kram. Namun, ia tak menyerah dan menembus podium.
"Kena mental aku. Tapi Alhamdulillah posisi ketiga," tutupnya. (Mainsepeda)