Mengalahkan Tadej Pogacar yang saat ia berada dalam performa puncak, terasa seperti misi nyaris mustahil bagi hampir seluruh peloton lawan. Team Visma-Lease a Bike menyadari kenyataan itu sepenuhnya.
Pada Tour de France musim lalu, mereka tidak sekadar mengandalkan kekuatan Jonas Vingegaard, tetapi menyusun taktik yang sangat kompleks, bahkan cenderung ekstrem, demi satu tujuan: membuat Pogacar kelelahan sebelum garis akhir di Paris.
Upaya itu memang tidak berujung kemenangan. Namun dari pengakuan Victor Campenaerts, Visma Lease a Bike mencoba berbagai cara untuk mengikis dominasi sang juara dunia asal Slovenia itu.
Baca Juga: Superhuman! Wout van Aert Hanya Butuh 10 Hari untuk Berlatih Kembali Pasca Operasi Engkel
Di permukaan, strategi Visma terlihat klasik. Pertama, memaksimalkan kedalaman skuad untuk menjaga posisi Vingegaard di momen krusial. Mereka juga menempatkan pembalap di segmen terakhir pada situasi breakaway. Terakhir, Vingegaard dan kawan-kawan memaksa balapan berlangsung keras sejak awal.
Tim performa Visma menghitung hampir segalanya. Bukan hanya data Vingegaard, tetapi juga estimasi angka-angka Pogacar sepanjang balapan. Salah satunya angka FTP (Functional Threshold Power), yakni daya rata-rata tertinggi (dalam watt) yang dapat dipertahankan oleh seorang pesepeda selama sekitar satu jam.
“Tim analis kami menganalisis semuanya,” kata Campenaerts kepada Het Nieuwsblad.
“Berapa lama Jonas berada di atas FTP-nya di Tour? Di mana kami memperkirakan FTP Pogacar, dan berapa lama dia juga berada di atas FTP itu? Berapa banyak karbohidrat yang mereka bakar? Apakah mungkin Jonas justru berada dalam defisit energi yang lebih besar dibanding Pogacar?”
Dari hitungan itu, Visma tidak hanya mencoba membuat balapan keras, tapi ingin memastikan Pogacar lebih menderita dibanding Vingegaard secara fisiologis. Masalahnya, Pogacar tidak terdampak. Matematika sudah dibuat. Taktik agresif diterapkan, tapi momen kejatuhan Pogacar tak pernah datang.
Di pegunungan, Pogacar tetap unggul. Daya tahan untuk melewati etape brutal tetap konsisten. Recovery antar-etape nyaris sempurna. Ditambah lagi, ia memiliki tim yang solid untuk menopang tekanan fisik dan psikologis.
“Musim lalu kami membuat balapan sangat keras, dan tetap saja Pogacar menang,” aku Campenaerts.
Visma akhirnya harus puas dengan posisi kedua secara keseluruhan. Sedangkan Campenaerts menunjukkan performa terbaik sepanjang karier sebagai pembalap domestique. Ia tampil solid di semua medan, mencatat angka pendakian terbaik sepanjang hidupnya. Ia juga menjadi bagian penting dari penopang Vingegaard, baik di jalan maupun di luar balapan.
Baca Juga: Dulu Cuma Jadi Dotwatcher, Kini Hafizh Anugrah Siap Taklukkan EJJ 1.500 Km
“Jika Anda menunjukkan angka yang saya capai tahun lalu kepada saya di awal karier, saya tidak akan berpikir bisa memenangkan Grand Tour,” ujarnya.
Musim 2026, Campenaerts dijadwalkan tampil di Giro d’Italia dan Tour de France, kembali menjadi tangan kanan Vingegaard. Ia kini memahami betul bagaimana tim bekerja di level tertinggi dan bagaimana peran domestique tak kalah krusial dibanding leader. Ia berharap musim depan kekuatan Pogacar akan berkurang sehingga celah kemenangan bagi timnya terbuka.
Balapan modern bukan lagi sekadar siapa yang paling kuat kakinya, tapi siapa yang paling akurat datanya dan paling efisien manajemen energinya. Visma sudah melakukan sains tingkat dewa, namun Pogacar membuktikan bahwa terkadang, bakat murni dan mentalitas juara masih bisa mengalahkan algoritma paling rumit sekalipun. (Mainsepeda)