Gowes di pulau Dewata, Bali selalu meninggalkan kesan mendalam. Tak salah apabila seluruh anggota Puri Cycling Club (PCC), komunitas asal Jakarta ini sepakat merayakan ulang tahun ke-21 PCC di Bali.

Persiapan yang dilakukan oleh PCC hanya dua bulan. “Tidak ada kesulitan berarti, semuanya kompak dan lancar dalam persiapan ulang tahun kali ini,” bilang Geraldus Cecep Gianova, ketua PCC.

Demi suksesnya acara ulang tahun ini, Suhaili, salah satu pentolan PCC menggandeng Wayan dari Bali Cycling untuk mencari rute yang cocok dengan semangat PCC yaitu Eat, Fun, and Harmony.

Sengaja dipilih pindah kota. Dan konsep ride kali ini adalah mengelilingi pulau Bali. Jadi hari pertama, tanggal 10 Mei, 50 cyclist anggota PCC berangkat dari Hotel Horison Legian di Kuta. Gowes ke utara menuju Brits Resort di Lovina, Singaraja.

Total jarak 106,3 km dibagi menjadi tujuh pitstop agar tidak memberatkan cyclist. Di tengah perjalanan hari pertama ini, seluruh peserta menyempatkan diri makan siang nasi Bali di Vihara Dharma Giri tepat di kilometer 69.

“Hari pertama ini perjalanan kami lumayan berat. Elevasi mencapai 1.900 meter dengan waktu tempuh hampir 6 jam,” tutur Suhaili. Setelah beristirahat. Rute hari kedua, tanggal 11 Mei ini lebih berat.

Kali ini start dari Singaraja kembali ke Kuta tetapi melewati bagian barat pulau Bali. Melewati Pura Pojok Batu, Tulamben, Pondok Mina Restaurant untuk makan siang, lalu lanjut ke Pura Goa Lawah.

Meskipun elevasi tidak setinggi hari pertama, tetapi total jaraknya lebih jauh. Yakni 169 km dengan total elevasi mencapai 1.200 meter. “Waktu tempuh hari kedua sekitar 8 jam,” tutur Cecep.

Perjalanan ini meskipun berat tapi menyenangkan karena dijalani bersama-sama teman satu komunitas dengan pedoman awal mengutamakan kebersamaan dan kekeluargaan.

Cecep juga bercerita, karena terpaku dengan pedoman mengutamakan kebersamaan jadi ketika grup cepat menambah kecepatan, grup papan tengah dan bawah malah ikut-ikutan.

Hingga kurang 7 km sebelum finis grup papan tengah dan bawah sudah kelimpungan mencari “bunga mawar” alias mampir warung. Begitu pula di hari kedua. Menjelang pitstop kedua, saling kejar antara grup papan tengah dengan papan atas terjadi lagi.

Begitu memasuki etape berikutnya yang menanjak dan cuaca panas terik, grup papan tengah dan bawah yang sudah terkuras tenaganya harus melipir mencari “bunga mawar” lagi.

Geraldus Cecep Gianova, ketua PCC.

Serunya, karena tidak banyak melewati jalan utama, sehingga banyak anjing yang mengejar cyclist. “Sempat takut juga, jadi gaspol cadence tinggi, setelah lolos dari anjing, giliran kita ngos-ngosan,” imbuh Suhaili lantas terbahak.

“Tapi apapun itu, mau cari warung, mau loading, atau gowes cepat, gowes lambat yang penting semua gembira. PCC bisa makin kompak hingga ulang tahun berikut dan berikutnya,” tukas Cecep.

Hal senada juga diungkapkan oleh Muljo Rahardjo, salah satu founder PCC. Menurut bos PT. Deltomed Laboratories ini, tidak banyak komunitas yang bisa bertahan hingga puluhan tahun seperti PCC ini.

Muljo Rahardjo.

“Kita harus bersyukur bahwa PCC bisa eksis hingga hari ini dan makin berkembang. Semua adalah hasil kerjasama dan kerja keras saling menghargai dan menghormati serta bisa kompak dalam harmoni antar anggota PCC itu resep utamanya,” tutup Muljo. (mainsepeda)         

Suhaili (kiri).

Populer

Ke Bromo via Jemplang, Dihadiri Cyclist Singapura
Awas, Jumbo-Visma Bakal Dahsyat di Semua Lomba!
Podcast Main Sepeda Eps 31: Harga Grupset Akan Terus Melambung?
Total Lima Etape, 825,2 Km dari Borobudur ke Bali
Kemenangan Pertama Sepeda Wdnsdy di Amerika
Baum dan Bastion Gravel Bike di Handmade Bicycle Show Australia
Tara: Saya Mencintai Sepeda Baru Olahraganya, Jangan di Balik!
1500 EJJ 2024 Update - Hour 92: Finis Kedua Men 39 and Under, Hadi Tombro Disambut Rice Cooker
Buka di Surabaya, Cycling Café Pertama di Indonesia
Komunitas yang Merangkul Semua Klub Sepeda