Seluruh pembalap yang masih bertahan di ajang Tour de France, menjalani tes anti-doping pada Senin (20/7) waktu setempat sebagai bagian dari program pengawasan ketat yang diterapkan International Testing Agency (ITA).
Sebanyak 166 pembalap diminta memberikan sampel darah selama hari istirahat balapan. Pemeriksaan dilakukan antara pukul 20.00 hingga 23.00 waktu setempat, dan menjadi bagian dari pemantauan Athlete Biological Passport (ABP), sistem yang digunakan untuk mengawasi perubahan biologis atlet secara berkelanjutan.
Langkah tersebut melengkapi rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan sebelum Grand Départ di Barcelona serta tes anti-doping yang berlangsung selama balapan.
Dalam pernyataan resminya, ITA menegaskan bahwa seluruh peserta Tour de France masuk dalam cakupan operasi tersebut.
"International Testing Agency mengonfirmasi bahwa misi pemeriksaan darah Athlete Biological Passport (ABP) secara menyeluruh telah dilakukan pada hari istirahat Tour de France," tulis ITA.
Lembaga itu menjelaskan bahwa pengambilan sampel tambahan bertujuan mengevaluasi perubahan pada penanda biologis hematologi setiap atlet sehingga profil biologis mereka dapat dipantau secara lebih akurat dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 16: Evenepoel Tercepat di ITT, Pogacar Pertahankan Jersey Kuning
Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 15: Evenepoel Taklukkan Pogacar di Plateau de Solaison
Menurut ITA, Athlete Biological Passport tidak dirancang untuk mendeteksi zat terlarang secara langsung. Sebaliknya, sistem tersebut memantau berbagai variabel biologis dalam jangka panjang guna mengidentifikasi perubahan yang dapat mengindikasikan praktik doping dan menjadi dasar penyelidikan lanjutan.
"Program ini merupakan bagian dari strategi anti-doping berbasis intelijen dan analisis risiko yang terus diterapkan selama Tour de France," demikian pernyataan ITA.
Balap sepeda menjadi salah satu cabang olahraga pertama yang menerapkan Athlete Biological Passport sejak 2008. Kini, sistem tersebut telah menjadi elemen utama dalam program anti-doping berbagai federasi olahraga internasional.
Selain pemeriksaan massal pada hari istirahat, Cycling Weekly melaporkan sejumlah pembalap juga menjalani tes anti-doping tanpa pemberitahuan pada malam hingga dini hari.
Pembalap unggulan seperti Tadej Pogacar (UAE Team Emirates-XRG) dan Jonas Vingegaard (Visma-Lease a Bike) diketahui sempat dibangunkan petugas pengawas doping pada Minggu (19/7) dini hari untuk menjalani pemeriksaan. Namun, keduanya bukan atlet pertama yang mengalami prosedur tersebut.
Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 14: Pogacar Melesat, Vingegaard Tertinggal 4 Menit
Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 13: Mauro Schmid Pecah Telur, Pogacar Masih Memimpin GC
Sedikitnya satu pembalap telah menjalani tes sekitar pukul 05.00 pada pekan pertama Tour de France. Hingga kini, pembalap dari sedikitnya lima tim disebut telah menerima pemeriksaan mendadak yang dilakukan antara pukul 23.00 hingga 06.00.
Tes pada jam-jam tersebut memerlukan izin hakim. ITA harus menunjukkan alasan yang kuat sebelum memperoleh persetujuan, termasuk dugaan berdasarkan profil Athlete Biological Passport, peningkatan performa yang tidak biasa, maupun informasi dari pihak tertentu.
Kebijakan pemeriksaan pada malam hari menuai beragam respons. Tadej Pogacar menyebut pendekatan tersebut sebagai sesuatu yang "aneh", sementara asosiasi pembalap profesional CPA turut mengkritik metode tersebut karena dianggap mengganggu waktu istirahat atlet.
Meski demikian, ITA menilai pemeriksaan pada waktu yang tidak terduga tetap diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, terutama dalam mendeteksi dugaan praktik micro-dosing yang lebih sulit dilacak melalui pemeriksaan konvensional.
Benjamin Cohen Direktur Jenderal ITA sebelumnya telah memberi sinyal mengenai kemungkinan penerapan tes semacam itu dalam wawancaranya dengan The Athletic pada April lalu.
"Apakah kita perlu mengubah kapan dan bagaimana melakukan pengujian? Ya, kami harus bisa melakukan tes kapan pun diperlukan. Berdasarkan informasi yang kami miliki, terdapat indikasi bahwa praktik micro-dosing masih menjadi persoalan," kata Cohen.
Meski membuka peluang fleksibilitas waktu pemeriksaan, Cohen menegaskan tes pada malam hari tidak akan dilakukan secara massal.
"Saya tidak berpikir masuk akal membangunkan seluruh atlet Tour de France pada pukul 03.00 dini hari. Pemeriksaan seperti itu hanya dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan yang sangat kuat terhadap atlet tertentu dan harus diterapkan secara sangat hati-hati," ujarnya. (mainsepeda)