"Ketagihan."

Mungkin itu satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan para peserta Bromo KOM. Sebab, tak sedikit cyclist yang rela kembali lagi dan lagi untuk menaklukkan tanjakan menuju Wonokitri.

Tahun ini, sebanyak 1.000 cyclist dari 319 komunitas, 121 kota, 26 provinsi, dan 14 negara ambil bagian dalam Bromo KOM 2026. Pada Sabtu, 6 Juni mendatang, mereka akan menempuh perjalanan bersepeda dari Surabaya (start di Mapolda Jatim) menuju Puncak Wonokitri Bromo. Mereka mencoba menuntaskan rute bersepeda yang kerap dijuluki sebagai "naik hajinya" para cyclist Indonesia.

Menjelang race day, cerita-cerita menarik bermunculan saat pengambilan race pack collection (RPC) di Wdnsdy Café, Surabaya, Kamis, 4 Juni 2026.

Salah satunya datang dari FX Glenn Marron, cyclist asal Singapura yang kembali membawa rombongan besar dari komunitas KHCC (KnockHouse Chop Chop).

Bagi Glen, Bromo KOM selalu punya alasan untuk didatangi kembali.

“Dibanding dua event sebelumnya yang saya ikuti, Bromo KOM masih sangat konsisten. Salah satu alasan saya mau balik lagi karena ini salah satu event lokal di Indonesia yang skalanya besar dan sangat terorganisasi. Saya juga ikut banyak race di luar Indonesia, dan tidak semuanya bisa se-organize Bromo KOM,” ujarnya.

Ini menjadi penampilan ketiga Glen di Bromo KOM. Tahun ini, ia bahkan membawa 20 cyclist dari Singapura.

Soal target, Glen ingin memperbaiki catatan waktunya.

“Saya bawa grup dan masing-masing punya target sendiri. Kalau target pribadi, saya ingin personal best,” katanya.


Para cyclist dari komunitas KHCC (KnockHouse Chop Chop) Singapura.

Jika Glen baru tiga kali ikut, cerita berbeda datang dari Vari Suak asal Manado.

Tahun ini menjadi penampilan ke-12 bagi cyclist yang tergabung dalam Manado Cycling Mania (MCM) tersebut.

“Saya masih ingat waktu pertama ikut. Dulu jersey-nya warna pink. Dari situ mulai kenal teman-teman dan kenal Mas Azrul,” kenangnya, lantas tersenyum.

Bersama MCM, Vari membawa delapan anggota komunitasnya ke Bromo KOM 2026.

Jumlah itu memang lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini justru paling sedikit. Biasanya bisa 15 sampai 20 orang. Sekarang banyak yang main padel. Latihan nanjak juga sudah jarang. Mereka tahu sendiri akibatnya kalau tidak latihan untuk naik Bromo,” ujarnya, lalu tertawa.

Meski demikian, semangat komunitas asal Sulawesi Utara itu tidak berkurang. Bahkan Vari berhasil "meracuni" anggota baru untuk ikut Bromo KOM.

Salah satunya Arifudin yang akan menjalani debut tahun ini.

“Saya memang penasaran dengan Bromo KOM. Teman-teman di Manado bilang percuma latihan setiap hari kalau belum pernah ikut Bromo KOM. Jadi seperti ada tanggung jawab juga untuk mencobanya,” katanya.

Vari juga mengungkapkan alasan mengapa banyak cyclist Manado cukup percaya diri menghadapi tanjakan Wonokitri.

“Kami di Manado itu jalan datarnya cuma di dalam kota dan pinggir pantai. Begitu keluar kota, isinya tanjakan. Tinggal pilih mau nanjak yang mana,” ujarnya.

Namun, kecintaan terhadap Bromo KOM ternyata tak selalu sejalan dengan kondisi ekonomi saat ini.

“Dulu dengan Rp5-6 juta sudah bisa dapat tiket pesawat, hotel, dan pendaftaran. Sekarang bisa sampai Rp10 juta,” ungkapnya.


Vari Suak (kanan) dan para peserta dari Manado Cycling Mania (MCM).

Cerita ketagihan juga datang dari Kupang.

Nanuk Dwiyuliawan bersama Sepeda Balap Kupang (SBK) dan Kupang Road Cycling (KRC) membawa total 25 cyclist ke Bromo KOM 2026.

“Yang sudah pernah ikut baru tiga orang. Sisanya debutan,” katanya.

Bagi Nanuk, Bromo KOM tahun ini juga menjadi misi balas dendam.

Pasalnya, beberapa anggota komunitasnya belum berhasil menaklukkan Wonokitri pada kesempatan sebelumnya.

“Masih ada yang belum lolos, jadi ingin mencoba lagi. Target kami sederhana, finis bersama-sama dan finis bahagia. Kalau bisa under COT, itu bonus besar buat kami,” tuturnya.


Para peserta Bromo KOM dari Sepeda Balap Kupang (SBK) dan Kupang Road Cycling (KRC) siap mengikuti Bromo KOM 2026. Mereka bahkan khusus menyewa ballroom di salah satu hotel di Surabaya untuk menempatkan sepeda.

Bagi sebagian orang, Bromo KOM adalah perlombaan. Namun bagi banyak cyclist lain, event ini telah menjadi tradisi tahunan yang selalu dirindukan.

Karena sekali mencoba, banyak yang akhirnya ketagihan. Meskipun kondisi saat ini lekat dengan frasa "in this economy" untuk menggambarkan situasi ekonomi yang tidak mudah, tapi ternyata Bromo KOM tetap masuk daftar prioritas.

Sejak pertama kali digelar pada 2014, Bromo KOM telah menjelma menjadi salah satu event sepeda paling konsisten di Indonesia. Tahun 2026 menjadi penyelenggaraan edisi ke-12 bagi event yang kerap dijuluki "naik hajinya cyclist" tersebut. Event ini selalu konsisten digelar tiap tahunnya. 

Selama lebih dari satu dekade, Bromo KOM telah melibatkan ribuan peserta dari ratusan komunitas sepeda. Kehadirannya juga terbukti memberikan dampak nyata bagi sektor sport tourism, khususnya di Kabupaten Pasuruan dan Jawa Timur. Mulai dari tingkat hunian hotel, pergerakan wisatawan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang rute, semuanya ikut bergerak setiap kali Bromo KOM digelar.(mainsepeda) 

Populer

12 Tahun Bromo KOM, Tetap Melahirkan Debutan yang Penasaran Menaklukkan Wonokitri
Zipp 303 Firecrest Terbaru Tantang Kita Ubah Pola Pikir
Peringati Hari Sepeda Dunia, UCI Bikin Gowes Virtual di Zwift
Sepeda Eddy Merckx "Hidup" Lagi
Ada Campagnolo Super Record 12-Speed EPS di Tour Down Under
In This Economy, Ternyata Ini Alasan Para Peserta Ketagihan Ikut Bromo KOM, Ada yang 12 Kali Ikut!
Gravel Bike: Cepat On Road, Tangguh Off Road
Specialized Venge Baru: Mengoreksi Kekurangan ViAS
Keong Balap Mengejar Prestasi
Menang Sprint Terakhir, Viviani Juara Dubai Tour