Mengikuti kategori Pair (berpasangan) dalam event ultra-cycling seperti East Java Journey (EJJ) memiliki dinamika yang sangat berbeda dibandingkan kategori Solo. Alih-alih hanya melawan diri sendiri, tantangan terbesar peserta Pair justru terletak pada sinkronisasi dua kepala.
Tantangannya sangat beragam. Yang paling klasik adalah level performa dan pace yang tidak sama. Seringkali tidak seimbang. Selain itu, terdapat manajemen waktu yang timpang karena rutinitas yang berbeda. Seperti kebiasaan makan atau untuk rehat yang tidak sama.
Akan tetapi, masalah itu coba direduksi oleh para peserta Pair di EJJ 2026. Pasangan Budi Suyanto dan Muhammad Ikhwan Dharmawan mungkin punya tantangan yang paling kompleks dibandingkan peserta Pair lainnya.
Baca Juga: Dulu Cuma Jadi Dotwatcher, Kini Hafizh Anugrah Siap Taklukkan EJJ 1.500 Km
Budi dan Ikhwan memiliki perbedaan umur yang jauh, terpisah hampir 30 tahun. Mereka juga bukan kerabat dekat, bukan rekan satu komunitas, dan tidak tinggal di kota yang sama. Bahkan mereka belum satu tahun saling mengenal.
Pertemuan keduanya cukup unik. Mereka tidak sengaja bertemu di sebuah warung Bakso saat mengikuti Bromo KOM 2025. Obrolan dan koneksi keduanya di awali dari sana. Ikhwan yang asli Banjarbaru, Kalimantan Selatan, lantas berlatih di Jawa untuk mengikuti event ultra-cycling lain.
Ikhwan akhirnya menyambangi rumah Budi yang berada di Purwokerto, Banyumas. Keduanya sempat berlatih bersama. Gowes jarak jauh dari Purwokerto ke Bandung dan Jakarta, sebelum kembali ke Purwokerto. Jaraknya sekitar 800 Km yang mereka tempuh kurang dari tiga hari.
Setelahnya, Ikhwan merasa ada kecocokan dan mengajak Budi untuk Pair di event-event ultra cycling di Indonesia sepanjang 2026 ini. Gayung bersambut, Budi pun menyetujui dengan syarat mengawali duet keduanya di ajang EJJ 2026 yang digelar pada 2-8 Februari mendatang.
Ultra-cyclist eksentrik yang dijuluki 'Master Roshi' itu mengaku telah membangun komunikasi yang intens dengan Ikhwan. Khususnya terkait strategi yang harus dilakukan disepanjang perjalanan.
"Pas latihan bareng kita itu masih sungkan. Jadi harus dilihat masing-masing ego kalau sudah di jarak jauh, akan kelihatan nanti. Tapi sampai hari, ini oke. Komunikasi baik dan saling ada toleransi," kata Budi.
Usia Budi saat ini 54 tahun, terpaut jauh dengan Ikhwan yang masih berusia 25 tahun. Walhasil, kekuatan keduanya jauh berbeda. Ikhwan tentu mempunyai power yang lebih kuat. Ia pun ditugasi untuk melakukan drafting untuk menutup kelemahan Budi.
"Tugas saya banyak narikin Pak Budi jadi saya latihan memperbesar power seperti latihan stength dan banyak nanjak," ungkap Ikhwan.
Terkait egonya, Ikhwan mengaku siap menurunkannya demi Budi. "Saya berusaha untuk tidak mengganggu perjalanan, tapi segala kebutuhan Pak Budi saya akan manut," imbuhnya.
Budi-Ikhwan menargetkan diri finish di hari kelima atau keenam, paling lambat Sabtu, 7 Februari 2026.
Masalah yang hampir serupa juga dihadapi pasangan Pair Ivo Ananda dan Arfiana Khairunnisa. Pair perempuan satu-satunya di EJJ 2026 itu berdomisili berbeda kota. Ivo di Surabaya, Arfiana tinggal di Jakarta. Hal ini membuat persiapan keduanya penuh tantangan. Baik Ivo maupun Arfiana harus berlatih masing-masing karena adanya keterbatasan jarak tersebut.
Untuk mengatasinya, Ivo dan Arfiana lebih mengedepankan komunikasi yang intens. Mereka saling bercerita, bertukar pikiran dengan harapan dapat satu misi ketika tiba waktunya untuk bersepeda bersama.
"Ngga ada strategi khusus, sering ngobrol aja. Sharing pengalaman, dan apa yang akan dihadapi nanti ketika 1.500km," kata Fian, sapaan Arfiana.
Arfiana sendiri fokus pada latihan endurance. Ia berlatih 1,5 hingga 3 jam per hari. Namun, cuaca yang sering hujan membuatnya fokus berlatih di dalam ruangan. Saat ditanya targetnya, Arfiana tidak muluk-muluk, yang terpenting finish under Cut of Time (CoT).
Di sisi lain, Pair Rina Harjianto dan Doni Arta lebih beruntungnya karena kedua cyclist berdomisili di kota dan komunitas yang sama. Mereka pun sudah mengenal lama sehingga chemistry keduanya lebih baik.
Hal yang paling diperhatikan Rina saat ini adalah perihal manajemen waktu, terutama saat istirahat dan makan. Ia telah menekankan kepada rekannya itu agar tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh sudah lapar atau kelelahan.
Sebelumnya, Doni mengalami dehidrasi akut sehingga harus menjalani perawatan medis ketika mengikuti Bentang Jawa 2025.
"Jangan sampai laper. Misal laper berhenti. Kalau bidon kosong, jangan ngempet haus sampai dehidrasi. Makan besar aku harus on time, istirahat juga," kata Rina.
Rina dan Doni telah menjalani latihan bersama beberapa waktu lalu. Salah satunya gowes 340-an kilometer dari Malang ke Yogyakarta. Dari sanalah, keduanya melakukan evaluasi sekaligus membangun strategi manajemen waktu bersama.
Rina sendiri sudah pernah menjajal EJJ 1.500 Km. Namun, ia harus DNF (Did Not Finish) sebelum memasuki check point (CP) 1. Cyclist 52 tahun itu pun bertekad untuk bisa finish strong. Saat ini, Rina secara konsisten berlatih demi EJJ 2026. Ia berlatih 4-5 kali seminggu dengan long ride setiap akhir pekan.
"Aku lemah di tanjakan jadi latihan dua bulan ini fokus di sana. Jangan sampai aku ajak Pair, tapi mengecewakan Mas Doni. Aku berusaha juga. Dan semoga aku lulus tahun ini," harapnya.
Baca Juga: EJJ 2026: Siku Sempat Hancur, Semangat Hadi Subroto Tak Luntur
Rina sendiri menargetkan bisa menyelesaikan EJJ 2026 1500 Km dalam kurun enam hari atau finis di Sabtu, 7 Februari 2026.
East Java Journey (EJJ) akan menjadi event pertama di kalender Mainsepeda 2026. Seperti tahun sebelumnya, event ini bersifat unsupported dengan dua kategori jarak. Yaitu 1.500 Km (Race) dan 600 Km (Non-Kompetitif).
Mainsepeda sendiri saat ini telah membuka registrasi untuk single-event kalender Mainsepeda 2026. Dari EJJ 2026, Bromo KOM, Ngebel KOM, Nggravel Blitar, Nggravel Glenmore, dan West Java Journey (WJJ). Selain itu, terdapat pula paket bundling dengan potongan harga hingga 40 persen. Pendaftaran dilakukan melalui Mainsepeda App! (Mainsepeda)