21 tahun merantau ke Tarakan, Kalimantan Utara, Slamet Riadi, memanfaatkan mudiknya kali ini dengan ekstrem. Ia akan bersepeda mengelilingi Jawa Timur sejauh 1.500 Km dengan mengikuti East Java Journey (EJJ) 2026.
Slamet yang berasal dari Trenggalek, tapi jarang mengeksplorasi rute-rute bersepeda di daerah asalnya. Rasa penasaran pun muncul. Ia ingin mencicipi jalur-jalur ikonik bersepeda melintasi Jawa Timur. Tak sekadar di Kampung Halamannya saja.
"Sudah lama ingin ikut. Ini sekalian pulang kampung dan ingin tahu tempat wisata gowes di Jawa Timur," kata cyclist 43 tahun itu.
Baca Juga: Mengapa EJJ Event Ultra yang "Enak"?
Slamet tidak sendirian. Ia mengajak rekannya Aris Supriyanto sebagai pair-nya. Sama-sama perantau di Tarakan dan pecinta ultra cycling. Alasan lain karena Slamet kurang berpengalaman mengikuti event ultra cycling sehingga membutuhkan tandem.
Aris sendiri pernah mengikuti event bersepeda 1.000 Km di Yogyakarta tiga tahun lalu. Dan, ia mengaku rindu bersepeda ribuan kilometer. EJJ 2026 pun dimanfaatkannya untuk menghidupkan kembali ambisi bersepeda ultra.
"Mau comeback ini ceritanya," canda Aris.
Cyclist asal Wonogiri itu mengikuti saran Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, untuk mencoba EJJ sebelum melangkah ke event lebih besar lagi. Seperti event ultra cycling lain, EJJ bersifat unsupported. Namun, panitia menyiapkan beberapa fasilitas pendukung yang memudahkan para pesertanya.
EJJ mengadopsi berbagai fitur event jarak jauh dari berbagai negara. Ciri utamanya ialah checkpoint yang penuh fasilitas. Suplai makanan, support mekanik, bahkan fasilitas fisioterapi akan disiapkan di check point resmi.
Selain itu, EJJ 2026 juga menyediakan fasilitas drop box untuk peserta. Jadi, peserta tidak harus membawa semua barang kebutuhan sejak awal. Sebagian bisa dititipkan melalui drop box yang akan dibawa panitia ke titik checkpoint yang sudah ditetapkan. Di sana, peserta bisa menukar barang bawaannya.
"EJJ sepertinya lebih manusiawi seperti mas Aza--sapaan Azrul-- bilang," imbuhnya.
Baca Juga: Pogacar Pecahkan Rekor Sendiri di Coll de Rates Saat Musim Dingin
Untuk persiapan jelang EJJ yang digelar 2-8 Februari 2026, Slamet dan Aris pun reguler berlatih. Mereka menyisakan waktu dua jam sehari untuk berlatih. Kendalanya ialah rute di pulau Tarakan yang terbatas. Titik terjauh bersepeda di pulau sekitar 70 km. Hal ini membuat mereka minimal dua kali melakukan loop untuk berlatih. Selain itu, rute menanjakanya pun cukup minim.
"Latihan tanjakannya nge-loop aja di Gunung Amal. Tanjakannya cuma 150 meter aja, tidak ada rute lain. Kalau pun ingin cari suasana baru ya harus naik speed boat ke pulau besar Kalimantannya," kata Slamet.
EJJ 2026 merupakan edisi keempat dari event ultra-cycling besutan Mainsepeda. Setiap tahun ratusan cyclist dari seluruh penjuru Indonesia berpartisipasi mengikuti event ini.
Pendaftaran EJJ 2026 telah di buka. Daftar sekarang di Mainsepeda App dan dapatkan potongan harga di masa pendaftaran early bird yang akan berakhir Besok, 20 Desember 2025 mendatang.(*)