Kolom Sehat: Anti Social-Social Ride

| Penulis : 

Apakah Anda sudah pernah mengikuti event sepedaan yang di atas 200 km? Atau yang event yang waktu penyelesaian normalnya ditargetkan lebih dari satu hari satu malam?

Kalau pernah apakah Anda ingin ikut lagi event seperti ini?

Bila Anda belum pernah ikut event seperti itu, apakah Anda tertarik mengikuti event -nya?

Kalau Anda belum pernah dan masih ragu-ragu mau join untuk event jarak jauh sepeda atau ultra cycling, maka saya bantu menjelaskan agar Anda lebih jelas.

Menurut saya, salah satu alasan utama seseorang mengikuti ajang seperti ini adalah ingin mengetahui dirinya sendiri lebih dalam lewat ajang bersepeda dengan durasi panjang. Mengenal kondisi diri yang lebih khusuk akan bisa tercapai bila Anda sendiri, dan melewati sebuah “rintangan” yang menurut Anda menantang untuk ditaklukan.

Sejatinya saat sendiri bersepeda itu akan membuat Anda lebih paham sisi Anda yang mungkin tidak pernah diketahui sebelumnya.

Ultra cycling ini menurut saya adalah kumpulan dari sekian banyak pesepeda yang anti social. Paling tidak mereka ingin waktu untuk menyendiri dan bersepeda.

Jika pesepeda ini masih ingin beramai-ramai dengan teman sekumpulan, pasti yang diajak yang mengerti kebiasaannya luar dalam.  Sering terjadi walau niatnya bareng-bareng sama sekumpulan teman, kenyataannya bisa berkata lain. Bisa terpisah karena tanjakan. Bisa pisah karena problem mekanik. Atau berpisah karena ketahan fisik yang berbeda.

Hal-hal yang tidak direncanakan dan terjadi di jalan adalah hal yang menguji mental pesepeda. Saya bisa cerita semua pengalaman saya ke Anda, tapi mungkin Anda mendapati pengalaman yang tidak mungkin saya dapati.

Dalam kasus saya, saya pernah ketemu seorang wanita di gelap-gelapan dan ditawari vodka. Kalau hal ini tidak terekam, mungkin Anda bilang saya gedabrus (bohong). Pengalaman pesepeda lain bisa lain lagi dan bisa jadi tidak kalah uniknya.

Kalau memang pesepeda ini anti social, kenapa kok mereka setuju ikut sebuah event yang ujung-ujungnya akan ketemu orang lain.

Menurut saya di sini sekumpulan pesepeda ini rindu bertemu dengan pesepeda lain yang mempunya visi atau keinginan yang sama. Mereka bersama-sama ingin menuntaskan sebuah rute, walaupun bertemu di jalannya jarang sekali.

Ketika bertemu, cakap-cakap yang dilakukan itu panjang lebar. Seringkali hanya say hi dan menanyakan satu dua hal remeh. Sisanya mereka akan terus mengayuh, makan, dan mengayuh sampai finis.

Kenapa sudah tahu sulit dan soro kok masih mau? Tiap pesepeda punya alasan sendiri-sendiri. Saran saya simpan satu kontak yang Anda yakin bisa dan mau menolong Anda ketika terjadi kesulitan atau memutuskan mengakhiri sepedaan Anda.

Yang penting jangan seperti teman saya, ketika saya minta tolong jawabannya, “lah daripada kamu telpon-telpon terus kamu mending sepedaan kan? kamu bisa maju beberapa meter? tutttttttt (suara telpon ditutup) dan saya menyelesaiakan rute itu. fukh.(Johnny Ray)

Populer

Bromo KOM 2026: Catat Jadwal, Lokasi, dan Alur Pengambilan Race Pack
Berburu Momen Terbaik di Bromo KOM 2026? Tenang, Puluhan Fotografer Siap Rekam Aksi Peserta
Persaingan Women Elite Bromo KOM 2026: Maghfirotika Marenda Dapat Tantangan Nama-Nama Baru
Sudah Lama Bermimpi Ikut Bromo KOM, Peserta dari Garut Ini Datang Paling Awal Ambil RPC
Jersey Bromo KOM 2026: Perpaduan Seni Hatching dan Bahan untuk Performa Maksimal
Bromo KOM 2026: Dari Aspal Jalan Sampai Kebutuhan Medis Dibahas Serius
In This Economy, Ternyata Ini Alasan Para Peserta Ketagihan Ikut Bromo KOM, Ada yang 12 Kali Ikut!
Jonas Vingegaard Yakin Tampil Lebih Kuat di Tour de France 2026
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
12 Tahun Bromo KOM, Tetap Melahirkan Debutan yang Penasaran Menaklukkan Wonokitri