dr. Sadi Hariono, MMRS. menempati ranking keempat di Men 55-59 Tahun di Banyuwangi Bluefire Ijen KOM Challenge 2022

Bagi dr. Sadi Hariono, MMRS., usia hanya deretan angka. Dokter asal Malang, Jawa Timur (Jatim) tersebut masih aktif bersepeda. Bahkan mengikuti berbagai event nanjak seperti Bromo KOM, Ijen KOM, dan Kediri Dholo KOM Challenge 2022 pada 3-4 Desember nanti. Ia menjadi penggerak olahraga sepeda di RS Prima Husada, rumah sakit yang ia pimpin saat ini.

Sadi mengaku memilih olahraga bersepeda karena lebih ramah dengan usia. Selain itu, ia sempat mengalami obesitas. Pada 2019 lalu, ia mengaku bahwa berat badannya mencapai 85 kg dengan postur 165 cm. Pada saat itu usianya menginjak 56 tahun.

"Kemudian saya melihat olahraga yang paling cocok adalah renang dan bersepeda. Karena obesitas ada risiko terkena cedera di lutut," terang Sadi.

Sebenarnya Sadi juga aktif berolahraga. Ia rutin bermain bulu tangkis dan tenis. Hanya saja kedua olahraga ini sulit untuk membuatnya mengendalikan berat badan. Alhasil, berbagai masalah kesehatan sempat dialami. Seperti sinusitis dan saraf terjepit.

dr. Sadi Hariono, MMRS. saat tampil di Banyuwangi Bluefire Ijen KOM Challenge 2022, September lalu

Kemudian ia mencoba untuk bersepeda. Lambat laun aktivitas ini rutin dilakukan tiap pekan. Tidak dinyana, kesehatannya justru membaik. "Saya bisa menikmati olahraga. Bahkan dengan sendirinya (masalah kesehatan) itu hilang semua," ungkap alumnus Universitas Brawijaya itu.

Ia mengaku bahwa awal mula menggeluti dunia sepeda juga memiliki tantangan terssendiri. Semula ia sempat menjajal sepeda gunung (MTB). Sadi mengaku sempat ragu memilih road bike. Karena menurutnya bentuk bannya kecil dan terlihat tidak meyakinkan.

Lambat laun kekhawatiran Sadi mulai terkikis. Ia mulai menjajal jenis sepeda baru. Pertama-tama, Sadi memilih gravel bike. Akan tetapi, karena adrenalinnya tertantang untuk melaju lebih cepat di jalan raya, barulah Sadi beralih sepenuhnya ke road bike.

Selama pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, aktivitas hariannya berubah total. Ia rutin bersepeda. Tidak hanya sendirian lagi, ia mengajak istrinya. Lalu membentuk Prima Husada Cycling Club (PCC). Sesuai dengan namanya, komunitas ini beranggotakan dokter, tenaga medis, dan staf RS Prima Husada, Malang. Total ada 50 member.

"Berdasarkan pengalaman saya dulu, sekarang saya nggak mau teman-teman tersesat seperti saya. Minimal ada mentornya lah. Dulu saya itu ukuran sepeda saja nggak mengerti. Beli-beli sepeda tapi nggak ada yang cocok," ucap Sadi lantas tertawa.

dr. Sadi Hariono, MMRS. berpartisipasi di event nanjak paling heboh di Indonesia, Bromo KOM Challenge 2022 

Dari yang awalnya obesitas, kini Sadi semakin terbiasa. Saat ini berat badannya sudah turun drastis. Sekitar 65 kilogram. "Sekarang tanjakan Bromo sudah bisa saya atasi karena badan saya sudah kecil. Kalau dulu ya berat," terangnya.

Sebagai seorang dokter dan berbekal pengalaman tersebut, Sadi juga mengampanyekan untuk hidup sehat dengan bersepeda. Bersama anggota PCC yang lain, mereka rutin gowes hampir lima kali seminggu. Mereka gowes sebelum berangkat bekerja dengan jarak 50 kilometer ke arah Bromo atau Pujon. (mainsepeda)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 111

Foto: Dokumentasi dr. Sadi Hariono, MMRS.

Populer

Tour de France 2026-Etape 16: Evenepoel Tercepat di ITT, Pogacar Pertahankan Jersey Kuning
Kolom Azrul Ananda: Misteri Tanjakan Bromo
Cyclist Favorit: Kisah Patricia Membelah Pulau Sulawesi
Pogacar Sedih Vingegaard Out dari Tour de France, Singgung Tes Anti-Doping
Tour de France 2026-Etape 15: Evenepoel Taklukkan Pogacar di Plateau de Solaison
Jonas Vingegaard Out dari Tour de France 2026 karena Patah Tulang Selangka
Sambut KAI Ngebel KOM 2026, Pemkot Madiun Siap Berikan Dukungan Lintas Sektor
HRV di Atas 200! Rahasia Kebugaran dan Recovery Supernya Mathieu van der Poel
Tour de France 2026-Etape 14: Pogacar Melesat, Vingegaard Tertinggal 4 Menit
Komunitas yang Merangkul Semua Klub Sepeda