Start bersama, saling menjaga sepanjang rute, kemudian finis bersama. Itu yang dilakukan kuartet Indonesia di Unbound Gravel 2022 di Kansas, di kelas 100 mil. Dietmar Dutilleux, Bagus Ramadhani, Amdani Ocha, dan Ivo Ananda berhasil menyelesaikan rute lebih dari 160 km itu dalam waktu 9 jam dan 49 menit.

Ivo Ananda, yang pada 21 Mei lalu meraih runner-up kelompok umur 35-39 di Antangin Bromo KOM Challenge 2022, menjadi perempuan Indonesia pertama yang mencapai finis di Unbound Gravel.

Sama seperti kuartet 200 mil, kelompok ini mengandalkan produk Indonesia. Memakai sepeda Wdnsdy, apparel dari SUB Jersey, dan sokongan nutrisi dari Strive dan Herba Mojo.

Dietmar, Bagus, dan Ocha memakai Wdnsdy Journey Titanium. Ivo memakai sepeda karbon racing gravel prototipe terbaru.

Aneka cuaca dirasakan kelompok ini. Mulai dingin, sempat panas, hingga hujan sangat lebat yang membuat mereka harus berlindung dulu di kota Madison, lokasi pit stop resmi sebelum menuju kota start/finis di Emporia.

Rute berbatu, tanjakan-tanjakan, juga jalanan berlumpur plus sungai-sungai kecil menjadi menu hari itu.

Usai mencapai garis finis, para peserta merasa bersyukur ada Dietmar Dutilleux, pria kelahiran Belgia yang sudah 30 tahun tinggal di Surabaya. Dietmar menjadi "ayah" bagi semua. Menjaga, merawat, dan memberi ketenangan bagi semua. Dia pun diberi julukan "Dietmar Van Aert," mencomot nama bintang sepeda Belgia, Wout Van Aert.

"Kalau tidak ada Dietmar, entah kami akan seperti apa. Dia yang selalu menemani, menghibur, dan menyemangati kita semua," ungkap Ivo.

Semua anggota grup 100 mil ini adalah debutan di Unbound Gravel. Tentu sangat berkesan. "Selama ini kami hanya mendengar cerita tentang event ini. Ternyata memang seru luar biasa," kata Bagus Ramadhani, CEO SUB Jersey.

Yang mereka anggap lucu adalah saat menuju garis finis. Dari awal semua kompak untuk finis bersama. Yang terjadi, saat garis finis semakin dekat, justru adu sprint. "Akhirnya fotonya berantakan," tegas Ivo.

Ketika ditanya apakah tahun depan ingin ikut lagi, bahkan upgrade ke kelas 200 mil, semua dengan tegas menolak. "Cukup sekali ini saja!" tandas Bagus.

Total hampir 1.500 peserta turun di kelas 100 mil ini. Jumlah yang hampir sama dengan kelas 200 mil. Selain dua kelas utama ini, ada pula kelas tambahan dan penggembira seperti XL, 50, 25 mil, dan kelas pelajar.(mainsepeda)

Baca Juga: Unbound Gravel 200 Mil: John-Edo Kalahkan Matahari, Azrul-Ray Tuntaskan Misi

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 88

Populer

Tour de France 2026-Etape 16: Evenepoel Tercepat di ITT, Pogacar Pertahankan Jersey Kuning
Kolom Azrul Ananda: Misteri Tanjakan Bromo
Cyclist Favorit: Kisah Patricia Membelah Pulau Sulawesi
Pogacar Sedih Vingegaard Out dari Tour de France, Singgung Tes Anti-Doping
Pulang dari Jerman, Ethan Batara Jatuh Cinta Event Sepeda Indonesia
Buat Ngebel KOM 2026, PT KAI Siapkan Kereta Khusus dan Layanan Bagasi Sepeda
Febrianta Heru Ngeloop 1.500 Km di PIK 2 Loop Selama 102 Jam
Rayakan Kemenangan Pogacar, Colnago Rilis V3Rs Capsule Collection
Pinarello Dogma F, Senjata Anyar Ineos Grenadiers
Brompton Luncurkan Empat Warna Baru untuk 2020