Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu dan sempat dibocorkan sendiri penampakannya, Specialized meluncurkan Tarmac SL7. Secara gambar memang sudah tidak mengejutkan, secara fitur juga tidak ada yang spektakuler.

Yang bikin ramai justru bagaimana perusahaan asal Morgan Hill, California, itu memposisikan sepeda baru ini. Karena Tarmac SL7 layak disebut sebagai kanibal. Lahir untuk "memakan" saudara-saudara sendiri. Menggantikan Tarmac SL6 sekaligus Venge!

Specialized sendiri yang menyatakan itu. "Berdasarkan target performa dan hasil akhirnya, Tarmac SL7 benar-benar paket komplet. Dan karena pengendara tak perlu lagi berkompromi, sekarang sulit bagi kami untuk memberi tahu orang untuk membeli Venge," tutur Cam Piper, product manager Specialized.

Selama ini, kebanyakan brand memang membagi sepeda road mereka dalam beberapa kategori. Di area performa, ada climber/allrounder dan aero. Bagi Specialized, yang allrounder itu selalu Tarmac, sedangkan yang aero adalah Venge.

Pada generasi terakhir keduanya (SL6 dan Venge terakhir), kemiripan sudah mulai terjadi. Geometri praktis sama, hanya beda pada sedikit bentuk frame untuk menonjolkan kebutuhan utama masing-masing.

Sekarang, SL7 dibuat semakin dekat lagi dengan Venge. Praktis, Venge pun jadi tidak dibutuhkan. Dan benar saja, mulai saat ini, Specialized tidak lagi menjual Venge secara full bike. Hanya menjual frameset saja bagi yang benar-benar menginginkannya.

Bahkan, muncul julukan baru untuk Tarmac SL7 ini. Ada yang menyebutnya "Vengemac."

Harus ditegaskan, tidak ada perubahan geometri pada SL7. Specialized terus mempertahankan resep sukses SL6 dan Venge. Tapi karena difokuskan lebih aero, ada sedikit tambahan bobot pada sepeda yang khusus disc brake ini. Juga dilaporkan sedikit lebih keras oleh beberapa reviewer senior.

Lewat SL7, Specialized memang ingin menekankan performa. Dari sisi aero saja, mereka mengklaim SL7 bisa mencatat waktu 45 detik lebih baik dari SL6, saat melaju konstan 50 km/jam selama 40 menit.

Tidak semua manusia bisa melaju secepat itu, selama itu, tapi performa habis-habisan memang yang ingin dicapai lewat SL7. Di arena WorldTour nanti, satu sepeda ini diharapkan bisa digeber Julian Alaphilippe di tanjakan sekaligus Peter Sagan di arena sprint.

Peluncuran SL7 ini juga mempertegas lagi arah tren performa road bike ke depan. Bahwa semakin "kabur" pemisah antara climber dan aero. Sebelum ini, Trek juga melakukan hal sama (tapi tidak seekstrem Specialized), ketika membuat Emonda SLR terbaru semakin aero.

Biasanya, ketika Trek dan Specialized sudah menegaskan arah, banyak pabrikan lain di dunia ikut menapaki jalan yang sama. (mainsepeda)

Populer

Vuelta a Espana 2026-Etape 21: Enric Mas Juara, Johannessen Menang di Granada
Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Samar Wulu, Komunitas Tuan Rumah yang Siap Sambut Peserta Nggravel Glenmore 2026
Isaac del Toro Juara GP Montreal 2026, Sinyal Kuat Jelang Kejuaraan Dunia
Azrul Ananda Bagi Tips buat Calon Peserta Nggravel Glenmore 2026
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
3 Cyclist Senior Siap Taklukkan Nggravel Glenmore 2026, Usia Bukan Halangan!
Race Around Java 2024: Citra Dewi Juara, Rekor Ultra Indonesia 3.000 Km dalam 10 Hari
Tour de Surakarta Digelar 10 Oktober 2026, Siap-Siap Nikmati Keindahan dan Kenyamanan Solo
Kamboja Menuju Produsen Sepeda Utama Dunia?